Pages

Labels

Hakk�mda

asep saeful millah
Lihat profil lengkapku

Sabtu, 29 Juni 2013

Kemandirian dalam Belajar

KEMANDIRIAN BELAJAR
DEFINISI
•    kemandirian belajar adalah aktivitas belajar yang didorong oleh kemauan sendiri, pilihan sendiri, dan mengatur diri untuk mencapai hasil belajar yang optimal serta mampu mempertanggungjawabkan tindakannya.
CIRI KEMANDIRIAN BELAJAR
1.    Percaya diri, yaitu: percaya terhadap kemampuan dirinya sendiri, sehingga timbul keberanian dalam diri siswa untuk menjalankan apa yang diyakininya itu benar dan siswa menyadari potensi yang ada pada dirinya.
2.    Mampu bekerja sendiri, yaitu siswa tidak tergantung pada orang lain baik itu teman keluarga maupun guru dalam belajar.
3.    Menguasai keahlian dan keterampilan yang sesuai dengan kerjanya, yaitu: siswa mampu memilih gaya belajar  yang sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan dirinya. Berkaitan dengan proses belajar, maka keterampilan belajar nampak pada kemampuan untuk menguasai cara belajar yang efektif.
4.    Menghargai waktu, yaitu: siswa mampu memanfaatkan waktu belajar  yang ada sebaik mungkin sehingga tidak ada waktu yang terbuang sia-sia.
5.    Tanggung jawab, yaitu: siswa mengetahui posisinya, tugas dan kewajiban seorang pelajar yang berkaitan dengan belajar.
BLUE PRINT  SKALA
PETUNJUK PENGISIAN SKALA PSIKOLOGI
Bacalah pernyataan-pernyataan di bawah ini dengan baik sebelum anda menjawab
Berilah tanda ( X ) pada pilihan anda
SS        : Jika anda sangat setuju
S        : Jika anda setuju atau sering
TS        : Jika anda tidak setuju atau jarang
STS    : Jika anda sangat tidak setuju atau jarang
Ikuti perasaan anda yang muncul spontan sesuai kata hati anda secara jujur. Jawaban anda tidak mempunyai pengaruh apapun pada diri anda
PEMAHAMAN INDIVIDU II (TEHNIK TESTING)
ARRI HANDAYANI, S.Psi.,M.si
MATERI PERKULIAHAN
BAB 1. KONSEP DASAR DALAM BIMBINGAN KONSELING
    Pengertian Tes
    Kelemahan tes
    Syarat-syarat tes yang baik
    Macam-macam tes
    Tujuan pemberian tes
    Langkah-langkah dalam kegiatan tes
BAB II. TES INTELLIGENSI
BAB III. TES BAKAT
BAB IV. TES MINAT
BAB V. TES PRESTASI BELAJAR
BAB VI. TES KEPRIBADIAN

BUKU ACUAN
Anne Anastasi & Susana Urbina. 2006. Tes Psikologi. Jakarta ; PT. Indeks
Dewa Ketut Sukardi., 2009. Analisis Tes Psikologi Teori & Praktek. Jakarta : PT. Rineka Cipta
Diah Karmiyati & Cahyaning Suryaningrum, 2005. Pengantar Psikologi Proyektif. Malang : UMM Press
Ki Fudyartanta, 2005. Pengantar Psikodiagnostik. Jakarta : Pustaka Pelajar Offset
Mungin Eddy W., 1984. Teknik Bimbingan & Konseling
Saifuddin Azwar, 1996. Psikologi Intelligensi. Jakarta : Pustaka Pelajar Offset
Saifuddin Azwar, 1996.Tes Prestasi. Jakarta : Pustaka Pelajar Offset
Sumadi Suryabrata, 1884. Pembimbing ke Psikodiagnostik. Yogyakarta : Rake Sarasin
Pengertian Test
    Cronbach : Urutan tugas yang sistematis untuk membandingkan tingkah laku dua orang atau lebih.
    Soemadi Suryabrata : Pertanyaan yang harus dijawab &/ perintah yang harus dikerjakan, hasilnya dibandingkan dengan standard atau testee yang lain
    A.D. Indrakusuma : Alat/prosedur yang sistematis & objektif untuk memperoleh data tentang seseorang dengan cara cepat & tepat
….lanjutan
    Anne Anastasi : Suatu pengukuran yang obyektif yang terbatas pada tingkah laku sampel.
    F.L. Goodenough : Serangkaian tugas standard yang diberikan pada seseorang /kelompok individu  dengan maksud untuk membedakan kecakapan seseorang dengan orang lain
Kesimpulan
    Tes hanya merupakan alat, bukan tujuan
    Alat tsb disusun secara sistematis & objektif menurut syarat-syarat tertentu
    Tes adalah serangkaian tugas yang berbentuk pertanyaan &/ perintah
    Tes diberikan kepada testee secara individual/klasikal
    Dengan tes diperoleh data secara cepat & tepat
    Keterangan yang diinginkan tergantung kepada maksud & alat yang diungkap
    Tingkah laku testee dalam tes dibandingkan dengan standard/tingkah laku testee lain
    Standardisasi test
    Materi test
    Penyelenggaraan test
    Skoring test
    Interpretasi test
    Kelemahan test
    Pada test itu sendiri
    Pada testi
    Pada tester
    Pada testing
Perbandingan tes baku
& tidak baku
Baku
    Dikonstruksi oleh ahli tes
    Isil tes tertentu (tidak dimodifikasi)
Tidak Baku
    Dikonstruksi oleh sso yg tdk memiliki keahlian dlm bid testing.
    Isi tes bersumber dari bbrp bidang yg telah mengalami modifikasi
    Aturan pelaks & penskoran ditetapkan oleh penerbit tes (hrs diikuti dgn tepat sbgmn yg ditetapkan dlm manual)
    Norma tes telah ditetapkan
    Evaluasi data tes ditetapkan penerbit
    Aturan pelaks & penskoran ditetapkan oleh penerbit tes ditetapkan sendiri, pensekoran subyektif.
    Tidak ada penetapan norma
    Kualitas data tes ditetapkan oleh pemakai
Syarat-syarat tes yang baik
    Valid     : Sejauh mana alat ukur yang digunakan mampu mengukur apa yang seharusnya diukur
    Reliabel     : Sejauh mana alat ukur yang digunakan mampu menunjukkan hasil pengukuran yang sama pada waktu yang berbeda
    Standard     : Setiap testi yang dites dengan test tersebut mendapat perlakuan yang sama
    Objektif     : Dalam memberikan skor tidak dipengaruhi oleh pandangan / prangka pribadi
    Diskriminatif        : tes dapat mengungkap gejala-gejala tertentu & menunjukkan perbedaan (diskriminasiu) perbedaan gejala tsb pada individu satu dengan yang lain
    Comprehensive     : Tes harus mengungkap banyak hal
    Mudah digunakan    : harus bersifat praktis, mudah dimengerti & mudah digunakan
Validitas
    Macam-macam validitas :
–    Validitas tampang / semu
–    Validitas isi
–    Validitas konstrak
–    Validitas prediktif dan konkuren
–    Validitas faktorial
Reliabilitas
    Estimasi reliabilitas :
–    Pendekatan tes ulang
–    Pendekatan tes sejajar
–    Pendekatan konsistensi internal
Macam-macam tes
    Berdasarkan cara mengerjakan :
–    Verbal
–    Non verbal
–    Performance
    Berdasarkan banyaknya testi :
–    Individual
–    Klasikal
    Berdasarkan waktu ;
–    Speed test
–    Power test
    Berdasarkan materi berhub dgn latar belakang teori :
–    Proyektif tes
–    Non proyektif tes
    Berdasarkan cara menilai :
–    Alternatif tes (B-S)
–    Graduil tes ( tingkatan : 2.1.0)
    Berdasarkan fungsi psikis yg diungkap :
–    Tes perhatian, tes fantasi, tes ingatan, tes kemauan
    Berdasarkan bentuknya :
–    B-S
–    Pilihan ganda
–    Tes isian
–    Tes mencari pasangan
–    Tes mengatur obyek
–    Tes deret angka
–    Tes rancang balok
–    Tes asosiasi
    Berdasarkan atas penciptanya :
–    Tes Rorschach
–    Tes Binet Simon
–    Tes Wartegg
–    Tes Kraepelin
–    Tes Weschler
    Berdasarkan aspek psikis yg diungkap :
–    Tes intelligensi
–    Tes bakat
–    Tes minat
–    Tes kepribadian
–    Tes prestasi belajar
    Prediksi : membantu memprediksi keberhasilan sso.
    Diagnosis : Perumusan masalah yang dihadapi siswa & perkiraan penyebabnya.
    Monitoring : Memantau sejauh mana kemajuan yg sdh dicapai siswa.
    Evaluasi : mengevaluasi data yg sdh ada
    Fungsi seleksi : memutuskan individu yg akan dipilih.
    Fungsi klasifikasi : mengelompokkan individu dalam kelompok sejenis.
    Fungsi deskripsi : melaporkan profil seseorang yg telah dites
    Mengevaluasi suatu treatment : suatu tindakan yg telah dilakukan telah tercapai/belum
    Menguji hipotesis: mengetahui hipotesis yg diajukan betul / salah
Tujuan Pemberian Tes
    Membantu siswa mengenal dirinya sendiri à dpt menerima dirinya scr obyektif & dpt sbg dasar perencanaan & mengambil keputusan masa depan.
    Membantu orang tua mengenal anaknya
    Membantu guru dalam merencanakan dan mengelola pengajaran
    Membantu kepala sekolah dalam menetapkan suatu kebijakan
    Untuk keperluan bimbingan konseling (bh diagnostik, bh info dlm penyusunan layanan penempatan (progdi,lap kerja), bh pertimb menentukan treatment
    Untuk katarsis
Sifat-sifat pengukuran Psikologis
    Dilakukan scr tidak langsung berdasarkan perilaku yg tampak / bdasarkan respons thd stimulus yg ada.
    Tidak pernah menunjukkan ketepatan 100%
    Tidak mempunyai satuan mutlak.
    Tidak mempunyai skala rasio.
    Bersifat deskriptif
Cara Pendekatan Tes Psikologis
    Psikometrik
    Perhitungan numerikal dengan satuan ukuran ttt thd suatu aspek psikis ttt)
    Konsep Thorndike (jika sst ada, keberadaannya memiliki jml ttt à dpt diukur)
    Impresionistik
    Lebih ditujukan pada perolehan deskripsi yg lengkap ttg individu yg diselidiki)
    Pemahaman ind hrs dilakukan scr menyeluruh dgn meneliti semua aspek psikis & memadukan nya mjd satu kesatuan
Prosedur Kegiatan Tes
1.    Penentuan tujuan
2.    Pemilihan & penyiapan materi & akomodasi tes
3.    Penentuan petugas tes
4.    Penyelenggaraan/pemberian tes
5.    Menscore hasil tes
6.    Interpretasi hasil tes
7.    Penyajian hasil tes
Tes klasikal
    Persiapan :
–    Jml subyek
–    Ruangan & perlengkapan
–    Buku tes
    Pelaksanaan :
–    Subyek masuk & duduk di tempt yg sdh disiapkan
–    Tester mengucapkan selamat datang & terima kasih, juga penciptaan rapport
–    Asisten membagi lj, subyek menulis identitas.
–    Lj diisi, buku tes dibagi (tertutup)
–    Tester meminta S membuka hal petunjuk.
–    Tester membacakan petunjuk tes dgn jelas.
–    Aba aba mulai à S mengerjakan soal.
–    Aba-aba selesai à asisten mengumpulkan lj & buku tes.
–    Jika bk tes terdiri dr bbrp sub tes à sub tes 1 segera disusul sub tes 2
Masalah-masalah dalam Pemeriksaan Psikologis
    Faking (baik & buruk) àTesti berbohong
    Social desirability à kecenderungan mengikuti norma masyarakat
O.K.I klien dianjurkan menjwb pertanyaan scr cepat
Etika penggunaan tes
dalam layanan BK
    Prinsip dasar :
–    Konselor memberikan layanan sekompeten mungkin dlm batas-batas kemampuan & pengembangan profesinya.
–    Memperhatikan ksejahteraan klien
    Prinsip-prinsip pengelolaan layanan tes American Psychological  Association (APA) & Canadian Guidance & Councelling Association (CGCA) :
–    Kerahasiaan
–    Keamanan tes : tes yg belum baku blm dijamin aman.
–    Interpretasi tes 
–    Publikasi tes : tes baku harus dilengkapi manual
Kode Etik Konselor (ABKIN)
    Tes hanya boleh diberikan oleh petugas yg bwenang.
    Testing diperlukan bila dbutuhkn data ttt ttg klien (sifat/ciri keprib, intllg, bakat, minat)
    Data yg diperoleh dari hasil testing hrs diintegrasikn dgn info lain yg diperoleh dr klien/sb lain.
    Data hasil testing hrs diperlakukan “setaraf” spt data & info ttg klien.
    Konselor hrs mberi orientasi kpd klien mengenai alasan digunakannya tes & apa hub dgn masalahnya.
    Hasil testing hanya dpt diberitahukan pada pihak lain sejauh pihak yg diberitau itu ada hub dgn usaha bantuan kpd klien & tdk merugikan klien.
    Pemberian sesuatu jenis tes hrs mengikuti pedoman yg berlaku bg tes tsb.
Sejarah Tes Intelligensi
    Fase persiapan (dari permulaan – 1915)
–    Berusaha mencari & menyusun tes intelligensi
–    Jaman kuno mengakui perbedaan individu (intelligensi) à phrenologi (FJ Gall)
–    F Galton menyusun tes psikologi, tetapi yang digarap hanya gejala periferal (daya pembeda pada penglihatan, waktu reaksi à kualitas mental berbeda)
–    Binetà pembuka & penunjuk jalan bagi testing mengenai intllg ( menulis subtes yang mengukur fungsi yang kompleks & lebih tinggi) à dipercaya Pemrth Prancis menyusun tes Intellg
    Fase naif (1915 – 1935)
–    Orang menggunakan tes inttg tanpa kritik
–    Umumnya mereka bersifat naif, menggunakan tes intellg tanpa memandang kelemahan
–    Tes intelligensi dianggap segala-galanya
    Fase mencari tes intelligensi yang bebas budaya
(1935 – 1950)
    Terbukti tes intelligensi mengandung kelemahan
    Kelemahan itu tergantung pada kebudayaan
    Budaya masuk ke dalam tes dalam bentuk bahasa à mencari tes yang bebas budaya ( bentuk non verbal). Tokoh Goodenough (DAM) & Porteuz (labyrinth)
    Gagal, karena bagaimanapun tes intelligensi adalah hasil dari kebudayaan
    Fase kritis (1950 – sekarang)
    Tes intelligensi mrp alat yang sangat baik, tetapi daya gunanya terbatas.
    Tes intelligensi bukanlah sesuatu yang serba menentukan, ttp mengandung kelemahan à dalam penggunaannya bersifat kritis, mengingat kelemahannya

Pengertian Intelligensi
    Menurut masyarakat umum :
    Intellligensi sebagai istilah yang menggambarkan kecerdasan, kepintaran, maupun kemampuan untuk memecahkan masalah. Pandangan tersebut tidak berbeda jauh dari makna intelegensi sebagaimana yang dimaksudkan oleh para ahli.
Menurut para Ahli
Alfred Binet bersama Theodore Simon :
    mendefinisikan intelegensi sebagai terdiri atas tiga komponen, yaitu (a) kemampuan untuk mengarahkan fikiran atau mengarahkan tindakan, (b) kemampuan untuk mengubah arah tindakan bila tindakan tersebut telah dilaksanakan, dan (c) kemampuan untuk mengeritik diri sendiri atau melakukan autocriticism.
    Lewis M. Terman mendefinisikan intelegensi sebagai kemampuan seseorang untuk berfikir secara abstrak.
    D. Wechsler mendefinisikan intelegansi sebagai kumpulan atau totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berfikir secara rasional, serta menghadapi lingkungan dengan efektif
        Kegunaan test inteligensi :
    1.    Sebagai diangnostik
    2.    Untuk kepentingan seleksi
    3.    Untuk studi lanjut
    4.    Untuk menentukan kegiatan belajar
    5.    Untuk menentukan kesiapan belajar
    6.    Untuk kepentingan penjurusan
    7.    Untuk meramalkan tingkatan yang akan dicapai esok
    8.    Untuk kepentingan penempatan atau pemilihan suatu pekerjaan
Intelegence Quotient (IQ)
    Salah satu cara yang sering digunakan untuk menyatakan tinggi-rendahnya tingkat intelegensi adalah menerjemahkan hasil tes intelegensi kedalam angka yanag dapat menjadi petunjuk mengenai kedudukan tingkat kecerdasan seseorang yang dinyatakan dalam bentuk rasio (quotient) yang sebut intelegence quotient (IQ). 
Perhirungan IQ dilakukan dengan memakai rumus:
IQ = (MA/CA) x 100
Ketetangan :
MA    = mental age (usia mental)
CA    = chronologi age (usia kronologi)
100    = angka konstan untuk menghindari            bulatan desimal
Keterbatasan rasio MA/CA
    Gagasan pokok dalam perumusan rasio MA/CA adalah relatif antara usia kronologis dangan usia mental yang telah ditentukan berdasarkan rata-rata pada kolompok usia tersebut, Ternyata hubungan seperti itu jarang ditemui dalam kenyataannya.
Distribusi  IQ
Distribusi angka IQ akan mengikuti suatu model sebaran normal yang berbentuk lonceng simetris.



Kelemahan tes intelegensi
   
    Tes yang digunakan secara salah akan sangat merugikan bagi testee dan bagi institusi yang yang berkepentingan.
    Pendapat yang mengatakan bahwa yang diukur tes intelegensi adalah  bersifat tetap karena dibawa sejak lahir dan tidak dapat berubah adalah keliru.
    Hasil tes intelegensi tidaklah dapat menghasilkan prediksi yang selalu akurat.
Macam-macam tes intelegensi
     Tes Intelegensi Kelompok:
    - The Standar Progressive Matrices (SPM)
    - Tes Goodenaugh (draw a man test)
     Tes intelegensi individu:
–    Tes stanford binet
–    Wechler Adult Intelegenci Scale (WAIS)
   
Contoh alat tes intelligensi
The Standar Progressive Matrices
    SPM merupakan tes yang bersifat nonverbal, artinya materi soal-soalnya diberikan tidak dalam bentuk tulisan ataupun bacaan melainkan dalam bentuk gambar-gambar.
     Tes SPM terdiri atas 60 buah soal yang berupa gambar-gambar. Setiap soal barupa sebuah gambar besar yang berlubang dan dibawah gambar besar tersebut terdapat 6 atau 8 buah gambar kecil sebagia pilihan jawaban.
Keenampuluh soal terbagi atas lima seri yang masing-masing berisi 12 soal yang disajikan dalam sebuah buku. Seri pertama, yaitu Seri A, merupakan seri yang paling mudah dicari dasar penalarannya.
    SPM tidak memberikan suatu angka IQ, akan tetapi menyatakan anska haisilnya dalam tingkat atua level intelektualitas dalam beberapa kategori, menurut besarnya skor dan uasia subjek yang dites yaitu :
    Grade I    = kapasitas intelektual Superior
    Grade II    = kapasitas intelektual diatas rata-rata
    Grade III    = kapasitas intelektual rata-rata
    Grade IV    = kapasitas intelektual dibawah rata-rata
    Grade V    = kapasitas intelektual terhambat.
CONTOH ALAT TEST

WAIS
(The Weschler Adult Intelligence Scale)
    Skala verbal :
–    Informasi
–    Rentang angka
–    Kosakata
–    Hitungan
–    Pemahaman
–    Kesamaan
    Skala performance :
–    Melengkapi gambar
–    Menyusun gambar
–    Rancangan balok
–    Merakit obyek
–    Simbol angka
WISC
 (The Weschler Intelligence Scale for Children)
    Informasi
–    Berisi 29 pertanyaan pengetahuan umum yang dianggap dapat diperoleh setiap orang dari lingk sosial & budaya sehari-hari dimana ia berada
    Rentang angka
–    Rangkaian angka-angka yang terdiri dari 3 – 9 angka yang disebutkan secara lisan, subyek diminta mengulang menyebutkannya dalam urutan yang benar. (rentang angka ke muka & ke belakang)
    Kosa kata
–    Berisi 40 kata-kata yang disajikan dari yang paling mudah -  sulit didefinisikan 
    Hitungan
–    Berupa problem hitungan setaraf dengan soal hitungan di SD.
–    14 soal diberikan secara lisan & dijawab secara lisan pula
    Pemahaman
–    Mengungkap soal pemahaman umum, menjelaskan ttg apa yang harus dilakukan pada situasi tertentu
    Kesamaan
–    Berupa 13 soal yang menghendaki subyek untuk menyatakan pada hal apakah 2 benda memiliki kesamaan
Skala performance
    Melengkapi gambar
–    Berupa 21 kartu yang masing-masing berisi gambar. Pada setiap gambar terdapat bagian penting yang sengaja dihilangkan, subyek diminta menyebutkan bagian yang hilang tsb.
    Menyusun gambar
–    Berupa 8 seri cerita gambar yang masing-masing terdiri atas beberapa kartu yang disajikan dalam urutan tdk teratur. Subyek diminta mengatur kartu tsb sehingga membentuk jalan cerita
    Rancangan balok
–    Terdiri atas suatu seri pola yang masing-masing tersusun atas pola merah putih. Setiap macam pola diberikan di atas  kartu sebagai soal. Utk setiap macam pola subyek diminta menirunya dengan menggunakan beberapa buah balok yang sisi-sisnya dicat merah, putih & merah putih
    Merakit obyek
–    Terdiri dari potongan2 bentuk benda yang dikenal sehari-hari yang disajikan dalam susunan ttt. Subyek diminta menyusun potongan tsb shg menjadi suatu bentuk
    Simbol angka
–    Berupa 9 angka yang masing-amsing mempunyai simbol sendiri-sendiri. Subyek diminta menulis simbol untuk masing-masing angka di bawah deretan angka yang tersedia sebanyak yang dapat ia lakukan dalam waktu 90 detik
    Distribusi Intelligence Quotient (I.Q)  Weschler:
I.Q     KATEGORI     %
130 ke atas     Sangat superior     2,2
120 - 129     Superior     6,7
110 - 119     Normal Cerdas     16,1
90 - 109     Normal     50,0
80 - 89     Normal Kurang Cerdas     16,1
70 - 79     Perbatasan     6,7
69 ke bawah     Catat Mental     2,2

TES BINET
Tes Binet disusun atas dasar skala umur
Untuk menentukan normal/tidak dilihat dari umur : CA & MA
Dasarnya : individu normal perkembangan MA akan sejalan dengan perkembangan CA
Rumusan untuk menentukan IQ yaitu :
            IQ =MA/CA x 100
Contoh:
Nama Testee    : A
Tanggal Lahir    :  3 September 1963
Sekolah        : SD
Kelas            : V (lima)
Tanggal Tes        : 14 September 1975
MA = 8 th + 30 bln = 8 th + 2 th + 6 bln = 10 th 6 bln
Umur kalender (CA) = 12 th 10 hari.
Achievement     : berbuat sebaik mungkin
Deference         : menyesuaikan diri
Order             : berbuat secara teratur & rapi
Exhibition         : menjadi pusat perhatian
Autonomy         : mandiri
Affiliation         : bekerja sama
Intraception     : memahami perasaan orang lain
Succorance     : menerima bantuan dr orang lain
Dominance         : menguasai orang lain
    Abacement : mudah merasa bersalah
    Nurturance : menolong orang lain
    Change     : berbuat sst yang baru & berbeda
    Endurance : tekun dalam tugas
    Heterosexuality : bergaul dgn lawan jenis
    Aggression : menyerang orang lain








KRAEPELIN
    Test ini pada dasarnya mengunakan prinsip hitungan sederhana yang berbentuk angka – angka yang berderet kesamping dan keatas.
    Test kraepelin ada 50 deret yang dibagian bawah diberi kode urt 1 sampai 50. sedangkan deret disamping kiri ada urutan angka dari bawah 1 sampai 28.
    Dalam test ini, teste dituntut untuk menjumlahkan setiap dua angka dari bawah keatas
    Pada setiap deret diberikan waktu 15 detik untuk mengerjakan dan setelah 15 detik pindah pada deret berikutnya sampai 50 deret.
    Test kraepelin merupakan speed test untuk mengungkap :
    Kecepatan kerja ( panker )
    Ketelitian kerja ( tinker )
    Keajegan kerja ( janker )
    Ketahanan kerja ( hanker )

RORSCHACH
    Metode tes Rho disebut psychodiagnostik
    Maksud utama : menguraikan psyche sso à meramal prestasi, kecakapan/minat sso.
    Inti : testi mengartikan sejumlah bercak tinta, tester mencatat & menganalisa psyche testi.
Metode tes Rho terdiri 10 gb noda tinta
    Gb 1,4,5,6,7, hitam keabu-abuan
    Gb 2,3 merah keabu-abuan & hitam keabu-abuan
    Gb 8,9 10 berwarna, dasarnya merah, biru, coklat, kuning
Hal penting penilaian Rho
    Lokasi        : keseluruhan, sebagian
    Determinant    : gerak, wrna, bentuk, bayangan
    Content        : Isi gambar
    Popularitas














0 komentar:

Poskan Komentar

 

Blogger news

Blogroll

About